Perjalanan Berbeda, Tujuan Sama
Bayangkan kamu ingin pergi dari Bandung ke Yogyakarta.
Kamu bisa:
- langsung naik kereta,
- transit di Purwokerto,
- atau transit di Semarang.
Rutenya berbeda, tetapi titik awal dan titik akhirnya sama.
Jarak total yang ditempuh tetap sama.
Demikian pula perubahan entalpi.
Selama pereaksi dan produknya sama, nilai ΔH akan tetap sama, tidak peduli melalui berapa tahap reaksi berlangsung.
Inilah inti Hukum Hess.
Bunyi Hukum Hess
Perubahan entalpi suatu reaksi hanya bergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir, tidak bergantung pada jalur reaksi yang ditempuh.
Karena itu, entalpi disebut sebagai fungsi keadaan (state function).
Dua Aturan Penting
1. Jika persamaan reaksi dibalik
Maka tanda ΔH juga berubah.
Contoh:
A → B ΔH = −50 kJ
dibalik menjadi
B → A ΔH = +50 kJ
2. Jika koefisien reaksi dikalikan
Nilai ΔH juga dikalikan dengan faktor yang sama.
Contoh:
A → B ΔH = −50 kJ
dikalikan dua menjadi
2A → 2B ΔH = −100 kJ
Contoh Perhitungan
Diketahui:
C(s) + O₂(g) → CO₂(g) ΔH = −394 kJ
CO(g) + ½O₂(g) → CO₂(g) ΔH = −283 kJ
Tentukan ΔH reaksi:
C(s) + ½O₂(g) → CO(g)
Langkah 1
Balik reaksi kedua.
CO₂(g) → CO(g) + ½O₂(g)
ΔH = +283 kJ
Langkah 2
Jumlahkan kedua reaksi.
CO₂ saling menghilangkan.
Hasil:
C(s) + ½O₂(g) → CO(g)
ΔH =
−394 + 283
=
−111 kJ
Mengapa Hukum Hess Bekerja?
Karena energi merupakan fungsi keadaan.
Yang penting hanyalah:
- keadaan awal (pereaksi),
- keadaan akhir (produk).
Jalur reaksinya tidak memengaruhi perubahan entalpi total.